Serial Kampung Adat 1
Mari Memetakan Kampung Adat Jawa Barat
Tentang Jawa Barat
Wilayah propinsi Jawa Barat meliputi sepertiga bagian sebelah barat pulau Jawa, selain sebagai daerah khusus ibukota Jakarta dan Provinsi Banten. Sebagian besar penduduknya adalah suku sunda yang mempunyai bahasa dan identitas cultural yang berbeda dengan wilayah tengah dan timur pulau jawa, yang biasa dikenal sebagai orang Jawa. Bahasa Sunda merupakan bahasa daerah kedua yang paling banyak dipakai di Indonesia dan memiliki sejarah politik budaya tersendiri yang cukup panjang dan cukup membanggakan.
Seara geografis, provinsi ini terbagi menjadi tiga wilayah. Pertama adalah wilayah yang berbentuk dataran, yaitu wilayah di bagian utara pesisir yang membentang dari indramayu, sebagian barat Jakarta, hingga ke Cirebon, di dekat perbatasan dengan Jawa Tengah. Lahan di bagian utara sebagian besar adalah wilayah persawahan. Sebagian lainnya digunakan untuk perkebunan kopi, teh, karet, kina.
Wilayah kedua adalah wilayah bergunung-gunung. Ada disebelah selatan Jakarta hingga seluruh bagian barat dan timur pulau jawa. Di sini, sistem irigasi tidak dilakukan seperti tanah pertanian yang bentang alamnya datar seperti di wilayah pesisir tetapi berbentuk berjenjang. Sebagian tanah pertanian berupa persawahan yang memerlukan pengairan khusus, sebagian berupa perkebunan atau hutan lindung yang tidak memerlukan sistem pengairan.
Wilayah ketiga berupa dataran tinggi (plateu) yang luas di tengah-tengah kota-kota seperti Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, dan Tasikmalaya. Plateu ini mencapai ketinggian antara 900-2.000 kaki ditas permukaan laut, dan dikelilingi pegunungan yang lebih tinggi yang mencapai ketingginan antara 6.000-9.000 kaki diatas permukaan laut. Alam pegunungan yang vulkanis membuat wilayah ini memiliki lahan pertanian yang sangat subur.
Tentang Masyarakat Sunda
Menurut RW van Bemmelen Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India Timur, sedangkan dataran tinggi bagian tenggara dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar (circum-sunda mountain sistem) yang panjangnya sekitar 7000 km. Dalam buku ilmu bumi disebutkan bahwa Sunda besar adalah himpunan pulau yang berukuran besar (Sumatra, Jawa, Madura dan Kalimantan), sedangkan Sunda Kecil adalah pulau-pulau yang berukuran kecil (Bali, Nusatenggara dan Timor).
Istilah Sunda yang digunakan untuk menamai wilayah dan penduduk di bagian barat pulau jawa berkait dengan kebudayaan Hindu. Pada awalnya kata Suddha dalam bahasa sangsekerta yang berarti tampak dari jauh putih bercahaya, digunakan untuk menamai Gunung Sunda (1850 meter). Selanjutnya nama tersebut digunakan untuk menamai wilayah tempat gunung itu berada. Dalam parasasti kabantenan dan beberapa naskah sunda kuna (Carita parahyangan, sanghyang siksakandan ng karesian, bujangga manik) serta dalam catatan Tome pires terdapat istilah Sunda yang digunakan untuk menamai wilayah dan kerajaan.
Dalam perjalanan istilah Sunda digunakan untuk mengidentifikasi kelompok manusia dengan sebutan urang–sunda. Pemahaman ini dapat berdasarkan keturunan atau hubungan darah, di mana seseorang atau sekelompok orang dimana ayah, ibu atau keduanya adalah orang sunda dimanapun dia berada. Demikian juga seseorang dapat disebut orang sunda apabila dia dalam lingkungan sosial budaya sunda dan menggunakan serta menghayati norma dan nilai budaya sunda.
Menurut sejarah tatar Sunda dimulai dari kerajaan (Prasasti abad ke 5 dan ke 7) tetapi catatan yang kebih pasti adalah pada parasasti abad ke 11 yang memberitahukan bahwa Maharaja Sri Jatabhupati (raja Sunda) pada awalnya mempunyai kerajaan yang berpusat di Galuh (Ciamis), yang kemudian pindah ke Pakuan (Bogor) dan akhirnya berpindah lagi ke Kawali (dekat Ciamis).
Cirebon yang semula merupakan bagian dari kerajaan Sunda kemudian melepaskan diri di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati yang menaklukkan Banten. Ketika kerajaan Sunda yang wilayahnya meliputi hampir seluruh Jawa Barat minus Batavia mulai runtuh, wilayah kekuasaan terbagi atas Banten dan Cirebon, Sumedang larang serta galuh. Pertentang antara Cirebon dan Sumedang Larang pada era Geusan Ulun, mengakibatkan sebagian daerah Majalengka Utara diserahkan kepada kekuasaan Cirebon. Melemahnya kekuatan Sumedang Larang serta Galuh menyebabkan kedua daerah ini ditaklukkan oleh kerajaan Mataram yang kemudian menamakan daerah ini menjadi Priangan.
Letak wilayah Priangan (pada abad ke 19) di sebelah utara dibatasi oleh Karesidenan Banten dan Cirebon, di sebelah selatan dan barat daya berbatasan dengan Samudera Hindia, dan disebelah barat berbatasan dengan Banten. Wilayah ini dihuni sebagaian besar oleh suku Sunda yang disebut urang gunung, wong gunung, atau tiyang gunung oleh orang yang tinggal di pesisir. Mata pencaharian utama penduduk priangan pada awalnya adalah berladang atau ngahuma, baru kemudian bersawah. Tanah Priangan yang subur selain mendatangkan keuntungan bagi penduduknya juga mengakibatkan daerah ini diperebutkan oleh kerajaan Mataram, VOC, dan kerajaan kecil disekitarnya untuk dapat dieklsploitasi habis-habisan.
Wilayah priangan yang dikuasai Mataram lebih kurang dari tahun 1595 berakhir pada tahun 1677 dan 1705 dengan perjanjian dengan VOC, yang berkuasa sampai pada tahun 1800 dimana kemudian diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda.
Uraian singkat di atas dapat memberikan gambaran bahwa di Jawa Barat, daerah priangan merupakan daerah yang relatif paling banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan Cirebon, dan Banten. Perubahan kekuasaan yang terjadi pada daerah Priangan ini secara langsung maupun secara tidak langsung memberikan pengaruh (dari luar) pada seluruh tatanan kehidupan masyarakatnya termasuk arsitekturnya. Dengan demikian daerah Priangan dianggap lebih layak untuk dijadikan lokasi penelitian yang menekankan pada dinamika perubahan arsitektur masyarakat Sunda dibanding daerah Banten dan Cirebon.
Sampai saat ini di daerah priangan terdapat empat kampung adat yakni : Kampung Pulo di leles, Kampung Naga diantara Garut dan Tasikmalaya, Kampung Kuta di Ciamis, serta kampung Dukuh di Cikelet. Kampung Pulo hanya terdiri dari 6 buah rumah, demikian pula dengan kampung Kuta, populasinya hanya tertinggal beberapa belas rumah. Pada kedua kampung tersebut sebagian besar larangan budaya Sunda yang umumnya diterapkan dalam fisik bangunan sudah banyak dilanggar. Kampung Naga masih memegang adat cukup kuat. Kampung ini termasuk tempat yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan, karena lokasinya tidak terlalu jauh dari jalan besar antara Garut dan Tasikmalaya.
Diantara kampung-kampung diatas, kampung Dukuh termasuk kampung ang paling kuat memegang adat, dan letaknya berada di pedalaman, sehingga untuk kasus studi kampung yang masih memegang adat, dipilih pada kampung Dukuh.
Daerah perkebunan peninggalan Belanda yang ada di daerah Priangan saat kini adalah perkebunan pada lintasan kota Bandung-Subang-Jakarta, perkebunan daerah sebelah selatan Garut, dan perkebunan daerah Ciwidey. Karena kedekatan lokasi dengan daerah Batavia, kekuasaan dan budaya Belanda relatif lebih kental memberikan pengaruhnya terhadap perkebunan yang terletak pada lintasan Bandung-Subang-Jakarta dibandingkan dengan perkebunan lainnya. Oleh sebab itu, pemilihan kampung perkebunan yang signifikan dipengaruhi faktor keteknikan (craftmanship) Belanda dipilih pada kampung Ciherang yang terletak disebelah Selatan Kota Subang. Sedangkan untuk kampung yang berbatasan dengan pesisir yang secara signifikan dipengaruhi budaya luar (Cina, Jawa) dipilih kampung Palasah yang terletak disebelah Utara Majalengka dan sibelah Selatan Cirebon.
Walaupun berbeda lokasi, kriteria untuk memilih kampung lainnya sebagai kasus studi (diperkebunan dan di pesisir), diusahakan mempunyai kesetaraan populasi, kelengkapan elemen, dan merupakan kampung yang tumbuh mandiri (tanpa intervensi suatau institusi) seperti pada kampung Dukuh.
Tentang Arsitektur Masyarakat Sunda
Umumnya, bangunan-bangunan dan rumah-rumah masyarakat sunda menggunakan bahan-bahan yang mudah musnah oleh proses waktu. Hal ini mengakibatkan relatif dapat dikatakan tidak ada banyak peninggalan fisik bangunan asli yang dapat dijadikan contoh bagi generasi berikut. Yang masih tertinggal adalah ciri-ciri yang diteruskan melalui tukang-tukang dan kebiasaan yang dikuatkan oleh latar belakang kepercayaan mereka.
Bagi masyarakat Sunda yang tinggal di daerah pedesaan, pola kampung biasanya dipengaruhi oleh mata pencaharian mereka. Umumnya mereka berusaha agar kampung dekat dengan daerah tempat kegiatan mata pencaharian. Proses awal pembentukan kampung biasanya terdiri dari satu sampai tiga rumah yang disebut umbulan. Kemudian kumpulan beberapa umbulan akan membentuk suatu babakan, yang umunya terdiri dari 5-6 rumah. Kesatuan pemukiman yang terdiri dari puluhan rumah, ruang terbuka, bangunan ibadah, lumbung padi, kandang ternak, kebun, sawah serta fisik lain disekelilingnya yang berkaitan erat dengan pemukiman akan membentuk suatu kampung.
Masyarakat Sunda umumnya memberikan penamaan kampung mereka melalui beberapa pendekatan seperti ukuran kampung, letak kampung menurut arah mata angin, letak kampung menurut tinggi rendah kontur, menurut waktu pembentukan kampung, menurut kedekatan dengan sungai atau gunung yang ada disekitarnya. Berdasarkan perbedaan ukuran kampung didapat istilah kampung –gede untuk pemukiman yang besar, kampung untuk pemukiman yang pertengahan, dan kampung-leutik untuk pemukiman untuk pemukiman yang jumlahnya relatif sedikit tetapi lebih bsar dari babakan. Berdasarkan arah atau letak terhadap mata angin dikenal dengan istilah-istilah seperti kampung-kulon, yang terletak disebelah barat, kampung-wetan, yang terletak disebelah timur, kampung –kaler yang terletak disebelah utara, kampung-kidul yang terletak disebelah selatan. Berdasarkan tinggi rendahnya kontur dikenal istilah kampung handap yang terletak dibawah dan kampung luhur yang terletak diatas. Berdasarkan sungai atau gunung yang ada disekitarnya dikenal dengan istilah kampung dengan menggunakan awal ci lalu disambung dengan nama sungai atau gunung yang dekat dengan kampung tersebut.
Rumah-rumah di kampung masyarakat sunda umunya terdiri dari beberapa jenis. Jika dilihat dari bentuk atapnya dikenal dengan istilah-istilah, seperti suhunan jolopong, jogo anjing, badak heuay, parahu kumereb, jubleg nagkub, dan julang ngapak. Sedangkan jika dilihat dari pintu masuknya (entrance) dikenal istilah buka palayu dan buka pongpok. Material dasar yang dahulu umum digunakan pada rumah-rumah di kampung masyarakat sunda adalah bambu dan kayu untuk tiang-tiang konstruksi, anyaman bilik untuk dinding, dan penutup atap daun hateup yang kemudian dilapis ijuk. Saat ini mulai juga digunakan batu bata untuk dinding, serta genteng tanah liat untuk penutup atap.
Belanda dan Arsitektur Tradisional masyarakat Sunda
Ketika Politik Etis dimasukan dalam khasanah kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia pada masanya memasukan rakyat Indonesia ke orbit kebudayaan penguasa dan menjadikan mereka menjadikan pemilik kebudayaan barat dan menjadikan tugas selanjutnya bagi pemerintah kolonial yang bersifat mengarahkan moral penduduk pada arah itu. Bagi Pemerintah Belanda Politik etis merupakan ungkapan rasa berdosa pemerintah Belanda.
Maraknya pergerakan Nasional dan kembalinya politik kolonial pada dominasi kekuasaan serta depresi perekonomian kolonial pasca perang dunia I, menyebabkan politik etis terdesak hingga menimbulkan kebingbangan yang menimbulkan semangat kesadaran dankebersamaan. Di lingkungan arsitek timbul gagasan mencari sumber inspirasi dari lingkungan tradisional, tatanan dan nilai-nilai setempat. Pencarian gaya Arsitektur Indis, dengan mengangkat citra pribumi, menjadi bermakna ganda; pertama kemauan tulus beberapa arsitek seperti Pont, Schomacher, Karsten, dan lainnya. Kedua, keraguan bahwa arsitektur akan diberi muatan politis untuk menunjukkan rasa belas kasihan semata.
Salah satu ciri kota indis ditandai dengan permukiman yang kompak dan taman serta jalur yang dominan sehingga memberi rasa sejuk. Bangunan berorientasi ke jalan-jalan dan lingkungan, disamping itu penampilannya masih serupa dan berciri kota tradisional yang dinampakkan adanya tanda batas kota berupa tugu. Batas kota menunjukkan batas tingkat keurbanan kota dalam budaya jawa.
Semenjak abad ke -15, berdasarkan catatan Tome Pires, hingga akhir abad ke -19 kota-kota disepanjang pantai utara Jawa sebagian besar tidak mengalami perkembangan yang berarti. Kota yang tidak mempunyai fungsi perdagangan pada umunya hanya merupakan pusat pemerintahan daerah. Kota kabupaten digambarkan tidak banyak berbeda dengan lingkungan pedesaan sekitarnya, hanya dalem (rumah) bupati dan sekitarnya yang menonjol. Bentuk bangunan rumah kebanyakan masih tradisional, hanya lambat laun bangunan gedung, loji dan vila bermunculan kemudian. Pola permukiman kota menunjukkan jelas-jelas sifat pluralistik masyarakat Indonesia. Kompleks rumah tembok loji dengan halaman luas di permukiman golongan eropa dan elit pribumi, pecinan dengan bangunan yang padat dan rapat satu sama yang lain. Kemudian, Kampung tempat kaum pribumi dan orang lokal pendatang tinggal, merupakan kontras dengan daerah lainnya, baik kualitas bangunan maupun sanitasinya.
Disamping mencerminkan pluralistik masyarakat Indonesia, pola pemukiman kota juga menunjukkan stratifikasi sosial masyarakat kolonial yang pengelompokkannya menurut garis warna sangat mencolok. Pecinan sebagai pusat perdagangan merupan enclave, tempat bangsa cina dan asia timur tinggal. Penduduk Eropa biasanya terbatas jumlahnya, pada umumnya tinggal di tempat garnisun militer atau dekat perkebunan sekaligus menjadi tempat pesanggarahan. Kampung menjadi tempat tinggal pribumi dengan perumahan yang dikelilingi kebun penuh pohon, rindang, sehingga berwajah setengah pedesaan. Pemukiman eropa secara fisik menunjukkan perbedaan yang menyolok dengan kampung atau pecinan, lagipula kondisinay berada dipinggiran kota yang belum berpolusi. Bangunan rumah pada umumnya berupa tipe Villa, disebut loji. Tata ruang disesuaikan dengan iklimpanas, ruangan berdinding tinggi, daun pintu serta jendela besar-besar dan tinggi. Daerah ini dihuni eklusif oleh bangsa eropa dan apabila ada penghuni cina atau pribumi, hal itu merupakan kekecualian karena mereka lazimnya temasuk warga kelas atas, Bangunan rapat satu sama lain seperti yang terdapat di beberapa kota pantai, jarang dijumpai.
Arsitektur Cina berkembang pesat dengan memberikan sumbangan teknologi konstruksi yang dimanfaatkan oleh penduduk Belanda untuk membangun beberapa fasilitas kota, sedangkan arsitektur pribumi, yang karena bangunannya temporer, kurang disukai Belanda karena baik material bangunannya maupun teknologi konstruksinya kurang memberikan rasa aman bagi penghuninya. Lagipula lingkungan yang kotor dan tidak sehat memberi citra yang tidak baik pada arsitektur lokal. Sementara itu dilingkungan pusat pemerintahan tradisional justru lebih banyak menyerap langgam dan elemen asing Eropa daripada mengembangkan yang telah ada. Itu yang membuat pergerakan arsitektur pada jamannya mendirikan Nederlance Indsiche Architectur Kring (NIAK) yang membuat pendekatan desain arsitektur pada pengembangan bentuk dan meningkatkan kinerja arsitektur tradisional untuk masyarakat Hindia Belanda hingga menjadi rujukan bagi para perencana untuk mendesain bangunanya.
July 20th, 2008 at 8:55 am
k adhi, punya contoh proposal penelitian gak? pengen neliti kampung adat di jawa barat eung… penasaran ma sejarah sunda….