Ngabandungan Alun-alun Bandung
Dia anu marisah ka beulah KALER, darengekeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu kasampak ngan ukur tegal baladaheun.Turunan dia lolobana bakal jado somah. Mun aya nu jadi pangkat, bakal luhur pangkatna, tapi moal boga kakawasaan.Arinyana engke jaga, bakal kaseundeuhan batur, loba batur nu anggang, tapi batur nu sarusah, jeung batur nu nyusahkeun..
Sing waspada!
Sakabeh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi ngan waktu nu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan anu barutuh, mantuan nu sarusah, tapi ngan anu hade lampahna.
Mun ngaing datang moal kadeuleu, mun ngaing nyarita moal kadenge. Memang ngaing bakal datang, tapi ngan kanu rancage hatena, kanu weruh semu anu saestu anu ngarti kana wangi nu sajati, jeung nu surti lantip pikirna, nu hade laku lampahna.Lamun ngaing datang nyawara, tapi mere ciri ku wawangi.
(Wangsit Prabu Siliwangi)
Sepenggal kisah wangsit Prabu Siliwangi ini yang membuat saya seperti terhipnotis membayangkan tentang kota tercinta ini, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kota saya sekarang ini dan ternyata romantisme yang juga tidak berkesudahan membuat saya jatuh cinta pada kota ini, ditengah semua aktivitas warga kotanya yang sampai sekarang masih sangat kompromis, menerima siapapun yang datang tampa memilih dan memilah siapa saja yang akan menjadi warga kotanya baik hanya untuk sekedar menyambung hidup maupun bertempat tinggal dan menjadikan ini sebagai kotanya, ras, suku, adat, agama, gender yang tidak pernah jadi permasalahan untuk kota ini.
Sejarahlah yang mendewasakan, sejarahlah yang membuat kota ini berubah dan sejarah pulalah yang membuat semua yang serba kompromis ini berubah, hilangnya ritual dan munculnya budaya baru yang tidak saja membuat perubahan yang signifikan, juga yang membuat kota ini berubah menjadi beranjak dewasa, terjadi sebuah ketakutan bagi saya sebagai salah satu warga kotanya, yaitu tidak kompromis, alias tidak kompak “teu sapagodos” .Walaupun aku sepertinya sangat mengenalmu walaupun dulunya tak begitu.
Waktu jualah yang menarik peristiwa itu jadi sejarah, sejarah yang terlewat dari peristiwa yang membuat warga kotanya tidak lupa akan tempat berpijaknya. Sekali lagi waktu – tempat – peristiwa menjadi sebuah acuan yang memerdekakan kita pada tonggak masa lalu menuju kekinian, Mencoba mencari jawaban identitas kultural dan spiritual pada masyarakat lampau.
Salah satu yang paling urgen saat ini adalah alun-alun Bandung, yang melengkapi perkembangan kota Bandung dari awal pembentukan kota yang tentu saja menjadi ruang terbuka di pusat kota. Perkembangan perkantoran dan perdagangan yang sangat cepat dan sangat menyita ruang kota yang keberadaannya kurang mengapresiasi kebutuhan warganya dengan ruang terbuka hijau, lihat saja bentuknya sekarang. Tidak lebih dari halaman masjid yang luas tidak menjadi alun-alun, desain urban yang masih buruk, dimana pohon peneduh, dimana areal untuk aksesbilitas manula, penyandang cacat, ibu hamil, anak-anak, pedagang kaki lima, tempat transit, pejalan kaki,utilitas kota yang buruk, terus terang ini sangat mengecewakan, hidup dikota tapi mikir di desa. Lihat warna streets furniturenya tentu saja fungsi ergonomis lebih dipertanyakan, mana signagenya, bahkan kita perlu mempertanyakan potensi vegetasinya, sepertinya mesti kita pertanyakan lagi.jangan-jangan makna arsitektur sebagai elemen demokrasi disini sudah mati. menurut Jencks hal tersebut bisa ditandai dengan: kesengajaan menjauhkan lokasinya dari eksisting struktur kota yang ada; angkuh atau monolit dalam ekspresi arsitektur; atau tidak tersedianya ruang positif yang mengundang warga kota untuk melakukan interaksi sosial dalam proses berdemokrasi, wah kalau begitu bisa jadi bahaya ruang publik kita.
Saya jadi teringat dengan cerita M Ridwan Kamil tentang Arsitektur, Kota dan Demokrasi ketika Menggugat Kembali Hak Demokrasi Rakyat di Ruang Publik, berikut cerita beliau. Agora di jaman Yunani kuno adalah ruang publik tempat seluruh lapisan masyarakat berinteraksi. Berdagang, bermain, berdiskusi, berdebat dan berteriak melontarkan pendapat di depan publik adalah kegiatan sehari-hari yang menjadi esensi dari semangat demokrasi yang lahir di agora ini. Kecilnya skala negarakota atau polis sebagai kesatuan komunitas di Yunani kuno ini, memungkinkan setiap orang berhak untuk melontarkan ide dan didengar langsung pendapatnya oleh publik. Interaksi sosial sebagai esensi demokrasi di agora ini mungkin bisa kita lihat di episode film seri televisi Hercules. Dalam perkembangan atmosfir berdemokrasi di agora ini, kemudian lahirlah beberapa tipologi fungsi arsitektur seperti Bouleuterion (bangunan legislatif), Prytaneion (bangunan eksekutif), Heliaea (bangunan yudikatif) dan Stoas (bangunan media untuk pameran, berdiskusi dll.). Kehadiran fungsi-fungsi baru tersebut tidaklah menjadi over dominan. Keberadaannya justru memperkuat eksistensi agora sebagai entiti arsitektur demokrasi yang paling luhur dan paling penting.Coba bayangkan dengan alun-alun Bandung yang sekarang, pagi jadi alur sirkulasi saja, siang menjadi lapangan panas, malam tak tau jadi apa. Sudahkah alun-alun Bandung menjadi tempat yang demokratis bagi warganya? Karena itu koneksitas bangunan sekitar alun-alun itu juga menjadi bagian terpenting dengan koneksitas ruang terbuka ini, Masjid Agung dengan menara raksasanya, Pendopo Balai kota dengan tamannya, Jajaran perkantoran Alun-alun Bandung, Pusat perdagangan, semoga jadi kompak.
Arsitektur sebagai elemen demokrasi semestinya lahir dari prinsip res publica yang menjadikan arsitektur sebagai monumen sekaligus ruang yang melahirkan spontanitas politik publik atau ruang tempat collective power masyarakat tumbuh dan berkembang. Menurut Leon Krier, jika prinsip res publica ini terpenuhi, dan secara harmonis mau berinteraksi dengan fungsi res privata seperti jalan-jalan umum, ruang terbuka kota dan fungsi privat kota lainnya, maka akan terbentuklah apa yang Krier sebut sebagai the true city atau civitas.
Kita selalu terjebak bahwa yang harus dilestarikan itu adalah hal-hal yang fisik semata, kita lupa bahwa, kebiasaan, suasana termasuk yang mesti kita percayai untuk kita lestarikan. Sekedar nyontek dari Kota-kota budaya seperti Beijing, Kyoto, Paris, London, Barcelona dan lain-lain dari segi pariwisata menganggap bangunan-bangunan kuno beserta situsnya dan distrik-distrik kota lama dapat dimanfaatkan sebagai aset untuk dijual bagi wisatawan.Untuk mencari aset-aset baru dan menjaga aset-aset lama, diperlukan beberapa konsep tidak cukup dengan Konservasi dan Preservasi saja tetapi juga istilah-istilah lainnya seperti Restorasi, Renovasi, dan Intervensi kadalam struktur historis.
Menurut Slamet Wirasonjaya untuk pelestarian kota ini langkah manapun yang akan diambil memerlukan beberapa kriteria yang menjadi dasar-dasar konsep-konsep, seperti falsafah, prinsip, dan desain. Identitas sejarah ditinjau kembali berdasarkan ras, religi, etnik, geopolitik, sistem sosial, dan sistem institusi. Segi positif menjual aset pada wisatawan, disampingnya dari segi dana yang bakal diperoleh, tetapi juga sebagai modal pokok untuk untuk mempertanggung- jawabkan pada masyarakat kotanya, disampingnya juga memasyarakatkan bangunan-bangunan bersejarah, meningkatkan rasa memiliki dan melindunginya nilai-nilai yang terkandung didalamnya baik sejarahnya, kulturnya dan estetikanya, untuk generasi yang akan datang.
Ketika Iklim akan selalu stabil, sementara sensibilitas estetik, selera visual, faktor sosial, ekonomi maupun politik dalam satu wilayah regional bisa saja berubah dan warga kota mulai memetakan apa yang diinginkan tentang kotanya tentang konsep privat dan public menjadi sebuah identitas kota yang kompak. Sehingga proyek besar urban design/planning tidak hanya ‘berbunyi’ di atas kertas belaka, oleh karenanya harus dicari cara yang lebih realistis dengan skala yang lebih mikro.Seperti "Urban acupuncture" yang tidak hanya mengobati beberapa titik-titik struktur kota yang rusak namun berpotensi sebagai urban katalis untuk menggiring perbaikan lingkungan kota yang lebih besar di radius titik ukupuntur tersebut.
Sepengal tulisan diatas saya kutip dari berbagai tulisan, maaf kalo saya tidak minta ijin pada beberapa yang disebutkan namanya diatas, sekedar mengingatkan anda masih berada di peta Bandung saat ini, sebuah peta kegundahan atas matinya titik partisipasi warga kota bandung atas kekuasaan kapitalis. Anggap saja tantangan terbuka buat para Urban Plannernya Bandung, jangan hanya jago tandang tapi coba jago main di kadang, jangan kalah terhadap interupsi, saatnya kawan-kawan mengeluarkan cakar ‘maung’ atas Bandungmu. Mari kita kompak.
Selamat Berjuang !
Ditulis oleh:
Tubagus Adhi
Anggota Muda BandungHeritage
Ngabandungan Alun-alun Bandung
jeung Bandung