Kekamuan akan Aku
Rara tak pernah muncul ketika jiwa-jiwa yang tenang menjadi sangat menghayutkan, menerpa pagi meranah keyakinan akan panggilan selamat datang hari yang panjang, kamu cukup menjadi itu, jiwa-jiwa yang tenang jiwa-jiwa yang menghayutkan hingga kamu pernah menarikku menjadi pribadi, memelukku menjadi hakiki bahkan menyapaku dengan pertanyaan pertanyaan yang aneh, aku meluangkan waktu untuk menyentuh jemarimu. Rara tak pernah muncul ketika keheningan berganti dengan pandangan, dengan hati hati yang mencengangkan, aku cukup melihatmu satu kali dan melihat lagi dikedua kali dengan tatapan semu dan keheranan. Aku menyapamu, dengan semangat matahari dengan propaganda pagi hari. Aku merindukanmu, lewat tatapan yang aneh, lewat mentari diatas kepala, lewat jajanan yang tak pernah terbeli. Aku meluangkan waktu untuk melapalkan namamu. Rara itu telah pergi, digantikan mentari yang melemah, digantikan sinar yang meredup, digantikan sore hari, digantikan tatapan kosong, digantikan mata-mata yang mengherankan, digantikan dengan terlelap selama 15 menit. Aku tau kau selalu ada disini. Diam dan menyapaku “Syayang” mungkin karena aku telah terpaut dengan kehendak yang mungkin akan menjadi batasanku melakukan sesuatu, aku mulai menulis kegundahan ini, yang lambat laun menggoncang, menggetarkan seluruh ranah nuraniku, semoga aku tetap setia. Entah apa yang membawaku pada ranah melankolisku yang menerpaku seperti tanpa revolusi dengan trik propagandanya yang membawaku melantunkan kata-kata yang menusuk ranah terdalamku. Ketika perasaan ini memunculkan ranah ketidak pastian hanya menunggu seiring doa. Maka tertulislah kisah tentang harapan yang memudar ditengah kepastian yang tak berptepi, tiada tara susahnya dipenuhi kelam melewati temaram hanya dapat hati luka.Seperti mawar berduri yang kini ku pergi.Aku pergi takan lama hanya sekejap saja aku ka kembali lagi asal kau tetap menanti.aku kan pergi meninggalkan dirimu menyusuri liku hidupku, janganlah kau bimbang dan janganlah kau ragu berikanlah senyumn padaku, aku pegi takakan lama hnya sekejap saja aku kan kembali lagi asalakan engkau tetap mernanti. Ini tertulis dibeberapa teks syair lagu Sebenarnya aku Cuma ingin cerita tentang daun, yang mulai merekas meninggalkan batang terrbawa angin sepoy-sepoy jatuh tersenyum menimpa tanah lupa untuk melawan gravitasi seperti keinginan yang selalu mendera nurani kita tiap pagi seperti aku yang lupa akan hidup yang merengkas keseharian melawan kebutuhan yang terpinggirkan, kalau boleh aku bilang apa pentingnya tulisan ini, ketika siang ini menjadi sembilu yang terenggah ditengah kecurigaan atas luka atas keringnya makna atas kematian kata, tapi aku tetap saja menulis bagai bus yan hilir mudik bak air yang turus menemui titik terendah, aku tetap berdiri atas nama makna dan kata. Aku yakin kau tidak pernah akan mengerti, atas pemaknaan hidup yang aku jalani Rara, ketidakpastian yang selalu aku sajikan dimeja makan di tempat makan junkfood atas nama kapitalisme, diperjalanan tanpa motor dan menunduk jalan mobil yang tak pernah berhenti atas nama modernisasi, semua semu tanpa makna semua kaku tanpa kata, tapi tetap saja aku berdiri atas pemaknaan dan kata-kata. Pernahkah terbesit darimu tentang kata dan kata atas nama dan nurani atas nama cita dan cinta atas nama orang-orang yang berdiri tegak bersama idealisme, ah aku yakin kamu bilang masa bodoh dengan itu, tidak pernah realitas bisa bersinggungan entitas, sayang kamu harus jadi kaya karena dengan kaya anak kita akan bersekolah ditempat yang hebat, karna dengan kaya kita bisa menikmati hal yang hebat lainnya, hanya dengan kaya semua bisa kita beli, karena kaya berarti uang yang banyak. Hari ini aku tersenyum untuk jiwa-jiwa, yang mengumpamakan dirinya anak kucing, anak ayam bahkan anak monyet, aku akan menyembelih diriku sendiri atas makna itu, setia tapi pemalas, pemalas tapi banyak akal, gabungan yang luar biasa antara rupa, susunan dan peristiwa dan pengkhayal itu mendaki lereng budaya dalam badai hujan gerimis, menguak zaman penuh duri meringis luka dalam gerimis yang meregas, ia tersentak meyambut sadar namun detak detik jam telah mati. Hari nanti kita akan berbangga atas provokasi dari makna propaganda yang selalu kita hias dalam untaian peristiwa, merekas seperti daun yang jatuh dari tangkainya, terbang bebas menyapa lingkar waktu dan menurut menjadi fenomena, ya entah apa yang terpikirkan oleh semua orang ketika keadaan terlihat sulit tak terpetakan yang pasti hari nanti sudah ada ribuah rencana yang harus menusuk ruang ingatan ada ratusan kelompok yang menghanguskan urat nadi atas nama pergerakan pembebasan. Harum nafas yang tercerahkan memutar otak kiriku untuk menyampaikan kegundahan yang meretak ditengah rentetan peristiwa yang mesti aku baca, belajar mendeskripsikan arti bergerak dan diam, atau pergi tinggalkan. Dimana letak kesunyian yang tadi pagi aku hampiri ?
Adhi november duaribu tujuh
December 31st, 2008 at 2:11 am
Salam kenal,
Kang punten pang ninggalikeun miniatur rumah Sunda buatan abdi,
naha leres kitu…?!.
Hatur nuhun sateuacanna.
Wslm