Jangan sekali-kali lupa sejarah
Monday, April 16th, 2007BERBEKAL tas, makanan ringan, dan air mineral, sekitar 25 orang menyusuri jalan-jalan, dari mulai Jln. Braga sampai Jln. Ciateul, Sabtu (17/3). Jalan-jalan di sini dalam arti, benar-benar jalan kaki. Beberapa tempat yang mereka sambangi di antaranya, Bank Jabar (dulu bernama Gedung Dennis-Jln. Braga-Naripan) , sampai Gedung Pemancar Nirom (Jln. Moh. Toha). Total ada 10 titik tempat bercokolnya stilasi (semacam tugu mini), yang mereka telusuri sebagai jejak-jejak persitiwa Bandung Lautan Api (BLA). Yang mereka lakukan boleh jadi dianggap sebagian orang sebagai aktivitas yang bikin capek. Meski demikian, mereka terlihat senang. Diselingi foto-foto dan bercanda, tak terasa berjalan kaki selama sekitar 3 jam itu sampai finisnya juga. Tak berhenti sampai jalan-jalan, di mana para peserta tur sempat melihat beberapa stilasi yang rusak oleh tangan jahil, sesampainya di sebuah rumah di bilangan Ciateul, para peserta tur menonton film dan berdiskusi. Abung Kusman, saksi dan pelaku sejarah BLA, hadir di sana untuk bercerita seputar peristiwa pembumihangusan Bandung saat itu. Para peserta dibuat tertegun, dan seperti membayangkan situasinya, ketika kakek berusia 80 tahun itu bercerita soal kekompakan warga Bandung dalam mengosongkan kota, sampai pada kesulitan ekonomi yang dihadapi. Itu adalah rangkaian acara dari walking tour napak tilas "Menelusuri Jejak-jejak Bandung Lautan Api 1946," yang digelar Bandung Trails, yang rutin membuat acara semacam ini. Semua paket walking tour BLA, dari mulai minum, handout, guide, dan acara lainnya, itu dibandrol Rp 10.000,00. ”Kita berharap orang asli, atau yang tinggal di Bandung, akan semakin kenal sejarah kotanya," kata Tubagus Adhi, pegiat Bandung Trails pada Kampus. Siapa tak kenal lagu "Halo-halo Bandung?" Ya, lagu itu memang familier mungkin sejak kawan Kampus ada di bangku sekolah dasar dulu. Namun, siapa peduli dengan peristiwa yang melatarbelakangi penciptaan lagu itu? Bahwa, peristiwa yang terjadi hampir 61 tahun lalu itu, merupakan salah satu kejadian bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan melawan penjajah. Saat itu, penduduk Bandung rela membumihanguskan tempat tinggalnya daripada diduduki oleh penjajah. Berbicara tentang sejarah Bandung, tentu bahasannya akan meluas, dari mulai era Daendles memerintahkan anak buahnya untuk membangun daerah ini pada tahun 1809, sampai era mal di mana-mana seperti sekarang. Namun demikian, tanpa mengecilkan arti yang lain, Adhi menyebut sejarah BLA sebagai sejarah tentang Bandung, yang tergolong ”wajib” diketahui warga Bandung. "Kita (orang Bandung-red) yang bikin sejarah ini, secara politis bukan penjajah, kita yang ingin merdeka!" kata Adhi, yang juga bergiat di Bandung Heritage. Lebih jauh lagi, Adhi menyebut peristiwa BLA sarat dengan nilai patriotisme. "Kita pernah kompak lho. Waktu peristiwa BLA itu, nggak ada kelompok apa pun, nggak ada kepentingan apa pun, yang ada adalah kepentingan rakyat," kata Adhi, soal pelajaran yang bisa diambil dengan mengetahui sejarah BLA. Kemasan media belajar Jalan-jalan ke situs sejarah seperti yang digelar Bandung Trails, atau komunitas sejenis misalnya Klab Aleut, memberikan gambaran bahwa pendekatan belajar sejarah tak cuma berfokus pada guru atau buku teks. Dalam konteks pembelajaran sejarah, terutama jika dikaitkan dengan tujuan sebagai wahana upaya pembentukan karakter bangsa, keterlibatan seseorang dengan objek kajian sejarah menjadi penting. "Kita ingin belajar sejarah jadi menyenangkan. Kita bisa belajar lewat pohon, gedung, kue, dsb.," kata Taufanny, pegiat Klab Aleut dalam sebuah obrolan dengan Kampus. Omong-omong tentang media pembelajaran sejarah, Irfan Amalee, seorang filmmaker, menuturkan bahwa itu bisa juga dilakukan lewat media film. Terkadang, film bahkan bisa lebih mudah masuk pada generasi muda, dibanding media lainnya. Irfan sendiri adalah pembuat film tentang danau purba Bandung, yang menonjol sisi sejarah geologisnya. Dituturkan Irfan,ketika ditemui seusai pemutaran filmnya di SMP/SMA Mutiara Bunda, Selasa (20/3), masih banyak yang tidak tahu, bahwa Bandung dulunya adalah danau, yang terbentuk karena gunung meletus, kira-kira 125 ribu tahun lalu. Padahal, kata Irfan, kita belajar tentang cekungan, patahan, dsb., sejak dulu, tapi tetap saja tidak tahu dan peduli tentang tanah yang dipijaknya. "Ini penting diketahui, misalnya, saya tinggal di Margahayu, bahwa di sana itu dulunya danau. Ketika surut, tanah jadi rawa, yang artinya tanahnya tidak padat, dan rentan kalau gempa. Dengan tahu itu, orang bisa siap-siap, misalnya, rumah berkonstruksi gempa, dsb.," katanya. Iman Rahman, pembuat film "Bandung yang Sarat Bangunan Bersejarah" dari komunitas film Tatar Ukur, belajar sejarah selain bisa dengan menonton film, tapi akan jauh lebih bagus jika terjun langsung membuat sendiri film itu. "Kalau kata buku begitu, tapi tetap kan the truth is out there," kata Iman. Menurut Iman, negeri ini masih minim pendokumentasian visual, terutama yang memakai pendekatan sejarah (spasial dan temporal). Padahal, peran pelestarian heritage, bukan hanya dengan meminta pemerintah memberi perhatian, tapi juga bisa dengan masyarakat sendiri yang aktif mendokumentasikanny a, baik secara tulisan maupun visual. Jika masyarakat secara umum, bisa secara substantif berperan serta dalam pendokumentasian sejarahnya sendiri, itu akan semakin baik. Film dokumenter atau sebuah foto gedung tua, mungkin saja tidak berarti sekarang, tapi lihatlah beberapa puluh tahun nanti, apalagi ketika objeknya sudah tidak ada, itu akan jauh bernilai, sebagai media belajar. Lebih jauh Irfan mengungkapkan, meski film bisa menjadi media yang efektif, namun tetap saja butuh teks yang bisa mengungkap lebih dalam. "Film lebih ke pembuka interes saja. Film itu paling lama 60 menit, berapa banyak sih yang bisa didapat, lebih lanjut memang hanya buku yang bisa menjawab," kata Irfan. Soal buku, Deni Rachman dari distributor Lawangbuku, dalam upaya memahami sejarah Kota Bandung, dia mengusulkan tentang pengadaan buku berseri tentang sejarah Kota Bandung. Selain lebih ringkas, juga bisa lebih murah. Ini untuk menyiasati karena buku-buku penting, misalnya, buku Bandoeng Tempo Doeloe-nya Haryoto Kunto yang belum dicetak lagi. Segala macam media belajar, dari mulai jalan-jalan, sampai pembuatan film, pada akhirnya memang tak bisa mengesampingkan cara penyampaian. Kemasan yang cenderung nge-pop, berkesempatan membuat belajar sejarah jadi lebih menyenangkan, terutama di mata generasi muda. ”Cara pengemasan memang penting diperhatikan,” kata Irfan. Berpikir kritis Sejarah ibaratnya, sebuah dialog antara masa lalu dan masa kini. Pentingnya mendialogkan masa kini dan masa lalu itulah yang disadari benar oleh Bung Karno, hingga ia mengeluarkan kalimat yang sudah akrab bagi kita semua, yaitu singkatan "Jasmerah", jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Bangsa yang melupakan sejarah adalah bangsa yang celaka. Sebaliknya, sebuah bangsa dapat maju dan berkembang bila tak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama di masa lampau. Bagi sejarawan Unpad Sobana Hardjasaputra, belajar sejarah membuat dirinya jadi semakin mengasah berpikir kritis. "Kalau betul-betul kita resapi, akan banyak manfaat yang didapat. Kita diajari bersikap kritis. Melihat fakta apakah itu benar atau tidak, kenapa bisa begitu, dsb.," kata Sobana. Perkembangan kekinian, ada beberapa penulis atau sejarawan yang menuliskan sejarah yang bersifat dekonstruktif teradap penulisan sejarah sebelumnya. Menurut Sobana, itu patut disambut baik, karena melahirkan banyak gagasan, juga bisa membuat masyarakat semakin belajar tentang sejarahnya sendiri. "Fakta dalam sejarah ada unsur interpretasi, jadi harus tetap dikritisi," katanya. Biasanya, pengetahuan itu berkorelasi dengan apa yang akan dilakukan. Molly, ibu muda yang menjadi peserta walking tour BLA, merasa senang karena semakin tahu tentang sejarah kotanya. Sedikit banyak ia sebenarnya malu karena lahir dan tinggal di Bandung, tapi tak terlalu tahu banyak tentang kota itu. "Nanti kalau suatu saat, misalnya, saya punya bangunan tua bernilai sejarah, minimal nggak akan saya rusak lah. Intinya sih, dari tahu, sedikit banyak jadi peduli," katanya. Dalam konteks sejarah Kota Bandung, kata Molly, kalau dulu Bandung pernah punya perencanaan yang begitu baik, marilah kita membuatnya jadi lebih baik, atau paling tidak menjaganya! *** dewi irma kampus_pr@yahoo. com