Archive for April, 2007

Jangan sekali-kali lupa sejarah

Monday, April 16th, 2007

BERBEKAL tas, makanan ringan, dan air mineral, sekitar 25 orang menyusuri jalan-jalan, dari mulai Jln. Braga sampai Jln. Ciateul, Sabtu (17/3). Jalan-jalan di sini dalam arti, benar-benar jalan kaki. Beberapa tempat yang mereka sambangi di antaranya, Bank Jabar (dulu bernama Gedung Dennis-Jln. Braga-Naripan) , sampai Gedung Pemancar Nirom (Jln. Moh. Toha). Total ada 10 titik tempat bercokolnya stilasi (semacam tugu mini), yang mereka telusuri sebagai jejak-jejak persitiwa Bandung Lautan Api (BLA). Yang mereka lakukan boleh jadi dianggap sebagian orang sebagai aktivitas yang bikin capek. Meski demikian, mereka terlihat senang. Diselingi foto-foto dan bercanda, tak terasa berjalan kaki selama sekitar 3 jam itu sampai finisnya juga. Tak berhenti sampai jalan-jalan, di mana para peserta tur sempat melihat beberapa stilasi yang rusak oleh tangan jahil, sesampainya di sebuah rumah di bilangan Ciateul, para peserta tur menonton film dan berdiskusi. Abung Kusman, saksi dan pelaku sejarah BLA, hadir di sana untuk bercerita seputar peristiwa pembumihangusan Bandung saat itu. Para peserta dibuat tertegun, dan seperti membayangkan situasinya, ketika kakek berusia 80 tahun itu bercerita soal kekompakan warga Bandung dalam mengosongkan kota, sampai pada kesulitan ekonomi yang dihadapi. Itu adalah rangkaian acara dari walking tour napak tilas "Menelusuri Jejak-jejak Bandung Lautan Api 1946," yang digelar Bandung Trails, yang rutin membuat acara semacam ini. Semua paket walking tour BLA, dari mulai minum, handout, guide, dan acara lainnya, itu dibandrol Rp 10.000,00. ”Kita berharap orang asli, atau yang tinggal di Bandung, akan semakin kenal sejarah kotanya," kata Tubagus Adhi, pegiat Bandung Trails pada Kampus. Siapa tak kenal lagu "Halo-halo Bandung?" Ya, lagu itu memang familier mungkin sejak kawan Kampus ada di bangku sekolah dasar dulu. Namun, siapa peduli dengan peristiwa yang melatarbelakangi penciptaan lagu itu? Bahwa, peristiwa yang terjadi hampir 61 tahun lalu itu, merupakan salah satu kejadian bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan melawan penjajah. Saat itu, penduduk Bandung rela membumihanguskan tempat tinggalnya daripada diduduki oleh penjajah. Berbicara tentang sejarah Bandung, tentu bahasannya akan meluas, dari mulai era Daendles memerintahkan anak buahnya untuk membangun daerah ini pada tahun 1809, sampai era mal di mana-mana seperti sekarang. Namun demikian, tanpa mengecilkan arti yang lain, Adhi menyebut sejarah BLA sebagai sejarah tentang Bandung, yang tergolong ”wajib” diketahui warga Bandung. "Kita (orang Bandung-red) yang bikin sejarah ini, secara politis bukan penjajah, kita yang ingin merdeka!" kata Adhi, yang juga bergiat di Bandung Heritage. Lebih jauh lagi, Adhi menyebut peristiwa BLA sarat dengan nilai patriotisme. "Kita pernah kompak lho. Waktu peristiwa BLA itu, nggak ada kelompok apa pun, nggak ada kepentingan apa pun, yang ada adalah kepentingan rakyat," kata Adhi, soal pelajaran yang bisa diambil dengan mengetahui sejarah BLA. Kemasan media belajar Jalan-jalan ke situs sejarah seperti yang digelar Bandung Trails, atau komunitas sejenis misalnya Klab Aleut, memberikan gambaran bahwa pendekatan belajar sejarah tak cuma berfokus pada guru atau buku teks. Dalam konteks pembelajaran sejarah, terutama jika dikaitkan dengan tujuan sebagai wahana upaya pembentukan karakter bangsa, keterlibatan seseorang dengan objek kajian sejarah menjadi penting. "Kita ingin belajar sejarah jadi menyenangkan. Kita bisa belajar lewat pohon, gedung, kue, dsb.," kata Taufanny, pegiat Klab Aleut dalam sebuah obrolan dengan Kampus. Omong-omong tentang media pembelajaran sejarah, Irfan Amalee, seorang filmmaker, menuturkan bahwa itu bisa juga dilakukan lewat media film. Terkadang, film bahkan bisa lebih mudah masuk pada generasi muda, dibanding media lainnya. Irfan sendiri adalah pembuat film tentang danau purba Bandung, yang menonjol sisi sejarah geologisnya. Dituturkan Irfan,ketika ditemui seusai pemutaran filmnya di SMP/SMA Mutiara Bunda, Selasa (20/3), masih banyak yang tidak tahu, bahwa Bandung dulunya adalah danau, yang terbentuk karena gunung meletus, kira-kira 125 ribu tahun lalu. Padahal, kata Irfan, kita belajar tentang cekungan, patahan, dsb., sejak dulu, tapi tetap saja tidak tahu dan peduli tentang tanah yang dipijaknya. "Ini penting diketahui, misalnya, saya tinggal di Margahayu, bahwa di sana itu dulunya danau. Ketika surut, tanah jadi rawa, yang artinya tanahnya tidak padat, dan rentan kalau gempa. Dengan tahu itu, orang bisa siap-siap, misalnya, rumah berkonstruksi gempa, dsb.," katanya. Iman Rahman, pembuat film "Bandung yang Sarat Bangunan Bersejarah" dari komunitas film Tatar Ukur, belajar sejarah selain bisa dengan menonton film, tapi akan jauh lebih bagus jika terjun langsung membuat sendiri film itu. "Kalau kata buku begitu, tapi tetap kan the truth is out there," kata Iman. Menurut Iman, negeri ini masih minim pendokumentasian visual, terutama yang memakai pendekatan sejarah (spasial dan temporal). Padahal, peran pelestarian heritage, bukan hanya dengan meminta pemerintah memberi perhatian, tapi juga bisa dengan masyarakat sendiri yang aktif mendokumentasikanny a, baik secara tulisan maupun visual. Jika masyarakat secara umum, bisa secara substantif berperan serta dalam pendokumentasian sejarahnya sendiri, itu akan semakin baik. Film dokumenter atau sebuah foto gedung tua, mungkin saja tidak berarti sekarang, tapi lihatlah beberapa puluh tahun nanti, apalagi ketika objeknya sudah tidak ada, itu akan jauh bernilai, sebagai media belajar. Lebih jauh Irfan mengungkapkan, meski film bisa menjadi media yang efektif, namun tetap saja butuh teks yang bisa mengungkap lebih dalam. "Film lebih ke pembuka interes saja. Film itu paling lama 60 menit, berapa banyak sih yang bisa didapat, lebih lanjut memang hanya buku yang bisa menjawab," kata Irfan. Soal buku, Deni Rachman dari distributor Lawangbuku, dalam upaya memahami sejarah Kota Bandung, dia mengusulkan tentang pengadaan buku berseri tentang sejarah Kota Bandung. Selain lebih ringkas, juga bisa lebih murah. Ini untuk menyiasati karena buku-buku penting, misalnya, buku Bandoeng Tempo Doeloe-nya Haryoto Kunto yang belum dicetak lagi. Segala macam media belajar, dari mulai jalan-jalan, sampai pembuatan film, pada akhirnya memang tak bisa mengesampingkan cara penyampaian. Kemasan yang cenderung nge-pop, berkesempatan membuat belajar sejarah jadi lebih menyenangkan, terutama di mata generasi muda. ”Cara pengemasan memang penting diperhatikan,” kata Irfan. Berpikir kritis Sejarah ibaratnya, sebuah dialog antara masa lalu dan masa kini. Pentingnya mendialogkan masa kini dan masa lalu itulah yang disadari benar oleh Bung Karno, hingga ia mengeluarkan kalimat yang sudah akrab bagi kita semua, yaitu singkatan "Jasmerah", jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Bangsa yang melupakan sejarah adalah bangsa yang celaka. Sebaliknya, sebuah bangsa dapat maju dan berkembang bila tak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama di masa lampau. Bagi sejarawan Unpad Sobana Hardjasaputra, belajar sejarah membuat dirinya jadi semakin mengasah berpikir kritis. "Kalau betul-betul kita resapi, akan banyak manfaat yang didapat. Kita diajari bersikap kritis. Melihat fakta apakah itu benar atau tidak, kenapa bisa begitu, dsb.," kata Sobana. Perkembangan kekinian, ada beberapa penulis atau sejarawan yang menuliskan sejarah yang bersifat dekonstruktif teradap penulisan sejarah sebelumnya. Menurut Sobana, itu patut disambut baik, karena melahirkan banyak gagasan, juga bisa membuat masyarakat semakin belajar tentang sejarahnya sendiri. "Fakta dalam sejarah ada unsur interpretasi, jadi harus tetap dikritisi," katanya. Biasanya, pengetahuan itu berkorelasi dengan apa yang akan dilakukan. Molly, ibu muda yang menjadi peserta walking tour BLA, merasa senang karena semakin tahu tentang sejarah kotanya. Sedikit banyak ia sebenarnya malu karena lahir dan tinggal di Bandung, tapi tak terlalu tahu banyak tentang kota itu. "Nanti kalau suatu saat, misalnya, saya punya bangunan tua bernilai sejarah, minimal nggak akan saya rusak lah. Intinya sih, dari tahu, sedikit banyak jadi peduli," katanya. Dalam konteks sejarah Kota Bandung, kata Molly, kalau dulu Bandung pernah punya perencanaan yang begitu baik, marilah kita membuatnya jadi lebih baik, atau paling tidak menjaganya! *** dewi irma kampus_pr@yahoo. com

Ngabandungan Alun-alun Bandung

Monday, April 16th, 2007

Dia anu marisah ka beulah KALER, darengekeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu kasampak ngan ukur tegal baladaheun.Turunan dia lolobana bakal jado somah. Mun aya nu jadi pangkat, bakal luhur pangkatna, tapi moal boga kakawasaan.Arinyana engke jaga, bakal kaseundeuhan batur, loba batur nu anggang, tapi batur nu sarusah, jeung batur nu nyusahkeun..

Sing waspada!

Sakabeh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi ngan waktu nu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan anu barutuh, mantuan nu sarusah, tapi ngan anu hade lampahna.

Mun ngaing datang moal kadeuleu, mun ngaing nyarita moal kadenge. Memang ngaing bakal datang, tapi ngan kanu rancage hatena, kanu weruh semu anu saestu anu ngarti kana wangi nu sajati, jeung nu surti lantip pikirna, nu hade laku lampahna.Lamun ngaing datang nyawara, tapi mere ciri ku wawangi.

                                                                                   (Wangsit Prabu Siliwangi)

Sepenggal kisah wangsit Prabu Siliwangi ini yang membuat saya seperti terhipnotis membayangkan tentang kota tercinta ini, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kota saya sekarang ini dan ternyata romantisme yang juga tidak berkesudahan membuat saya jatuh cinta pada kota ini, ditengah semua aktivitas warga kotanya yang sampai sekarang masih sangat kompromis, menerima siapapun yang datang tampa memilih dan memilah siapa saja yang akan menjadi warga kotanya baik hanya untuk sekedar menyambung hidup maupun bertempat tinggal dan menjadikan ini sebagai kotanya, ras, suku, adat, agama, gender yang tidak pernah jadi permasalahan untuk kota ini.

Sejarahlah yang mendewasakan, sejarahlah yang membuat kota ini berubah dan sejarah pulalah yang membuat semua yang serba kompromis ini berubah, hilangnya ritual dan munculnya budaya baru yang tidak saja membuat perubahan yang signifikan, juga yang membuat kota ini berubah menjadi beranjak dewasa, terjadi sebuah ketakutan bagi saya sebagai salah satu warga kotanya, yaitu tidak kompromis, alias tidak kompak “teu sapagodos” .Walaupun aku sepertinya sangat mengenalmu walaupun dulunya tak begitu.

Waktu jualah yang menarik peristiwa itu jadi sejarah, sejarah yang terlewat dari peristiwa yang membuat warga kotanya tidak lupa akan tempat berpijaknya. Sekali lagi waktu – tempat – peristiwa menjadi sebuah acuan yang memerdekakan kita pada tonggak masa lalu menuju kekinian, Mencoba mencari jawaban identitas kultural dan spiritual pada masyarakat lampau.

Salah satu yang paling urgen saat ini adalah alun-alun Bandung, yang melengkapi perkembangan kota Bandung dari awal pembentukan kota yang tentu saja menjadi ruang terbuka di pusat kota. Perkembangan perkantoran dan perdagangan yang sangat cepat dan sangat menyita ruang kota yang keberadaannya kurang mengapresiasi kebutuhan warganya dengan ruang terbuka hijau, lihat saja bentuknya sekarang. Tidak lebih dari halaman masjid yang luas tidak menjadi alun-alun, desain urban yang masih buruk, dimana pohon peneduh, dimana areal untuk aksesbilitas manula, penyandang cacat, ibu hamil, anak-anak, pedagang kaki lima, tempat transit, pejalan kaki,utilitas kota yang buruk, terus terang ini sangat mengecewakan, hidup dikota tapi mikir di desa. Lihat warna streets furniturenya tentu saja fungsi ergonomis lebih dipertanyakan, mana signagenya, bahkan kita perlu mempertanyakan potensi vegetasinya, sepertinya mesti kita pertanyakan lagi.jangan-jangan makna arsitektur sebagai elemen demokrasi disini sudah mati. menurut Jencks hal tersebut bisa ditandai dengan: kesengajaan menjauhkan lokasinya dari eksisting struktur kota yang ada; angkuh atau monolit dalam ekspresi arsitektur; atau tidak tersedianya ruang positif yang mengundang warga kota untuk melakukan interaksi sosial dalam proses berdemokrasi, wah kalau begitu bisa jadi bahaya ruang publik kita.

Saya jadi teringat dengan cerita M Ridwan Kamil tentang Arsitektur, Kota dan Demokrasi  ketika Menggugat Kembali Hak Demokrasi Rakyat di Ruang Publik, berikut cerita beliau. Agora di jaman Yunani kuno adalah ruang publik tempat seluruh lapisan masyarakat berinteraksi. Berdagang, bermain, berdiskusi, berdebat dan berteriak melontarkan pendapat di depan publik adalah kegiatan sehari-hari yang menjadi esensi dari semangat demokrasi yang lahir di agora ini. Kecilnya skala negarakota atau polis sebagai kesatuan komunitas di Yunani kuno ini, memungkinkan setiap orang berhak untuk melontarkan ide dan didengar langsung pendapatnya oleh publik. Interaksi sosial sebagai esensi demokrasi di agora ini mungkin bisa kita lihat di episode film seri televisi Hercules.  Dalam perkembangan atmosfir berdemokrasi di agora ini, kemudian lahirlah beberapa tipologi fungsi arsitektur seperti Bouleuterion (bangunan legislatif), Prytaneion (bangunan eksekutif), Heliaea (bangunan yudikatif) dan Stoas (bangunan media untuk pameran, berdiskusi dll.). Kehadiran fungsi-fungsi baru tersebut tidaklah menjadi over dominan. Keberadaannya justru memperkuat eksistensi agora sebagai entiti arsitektur demokrasi yang paling luhur dan paling penting.Coba bayangkan dengan alun-alun Bandung yang sekarang, pagi jadi alur sirkulasi saja, siang menjadi lapangan panas, malam tak tau jadi apa. Sudahkah alun-alun Bandung menjadi tempat yang demokratis bagi warganya? Karena itu koneksitas bangunan sekitar alun-alun itu juga menjadi bagian terpenting dengan koneksitas ruang terbuka ini, Masjid Agung dengan menara raksasanya, Pendopo Balai kota dengan tamannya, Jajaran perkantoran Alun-alun Bandung, Pusat perdagangan, semoga jadi kompak.            

Arsitektur sebagai elemen demokrasi semestinya lahir dari prinsip res publica yang menjadikan arsitektur sebagai monumen sekaligus ruang yang melahirkan spontanitas politik publik atau ruang tempat collective power masyarakat tumbuh dan berkembang. Menurut Leon Krier, jika prinsip res publica ini terpenuhi, dan secara harmonis mau berinteraksi dengan fungsi res privata seperti jalan-jalan umum, ruang terbuka kota dan fungsi privat kota lainnya, maka akan terbentuklah apa yang Krier sebut sebagai the true city atau civitas.

Kita selalu terjebak bahwa yang harus dilestarikan itu adalah hal-hal yang fisik semata, kita lupa bahwa, kebiasaan, suasana termasuk yang mesti kita percayai untuk kita lestarikan. Sekedar nyontek dari Kota-kota budaya seperti Beijing, Kyoto, Paris, London, Barcelona dan lain-lain dari segi pariwisata menganggap bangunan-bangunan kuno beserta situsnya dan distrik-distrik kota lama dapat dimanfaatkan sebagai aset untuk dijual bagi wisatawan.Untuk mencari aset-aset baru dan menjaga aset-aset lama, diperlukan beberapa konsep tidak cukup dengan Konservasi dan Preservasi saja tetapi  juga istilah-istilah lainnya seperti Restorasi, Renovasi, dan Intervensi kadalam struktur historis.

Menurut Slamet Wirasonjaya untuk pelestarian kota ini langkah manapun yang  akan diambil memerlukan beberapa kriteria yang menjadi dasar-dasar konsep-konsep, seperti falsafah, prinsip, dan desain. Identitas sejarah ditinjau kembali berdasarkan ras, religi, etnik, geopolitik, sistem sosial, dan sistem institusi. Segi positif menjual aset pada wisatawan, disampingnya dari segi dana yang bakal diperoleh, tetapi juga sebagai modal pokok untuk untuk mempertanggung- jawabkan pada masyarakat kotanya, disampingnya juga memasyarakatkan bangunan-bangunan bersejarah, meningkatkan rasa memiliki dan melindunginya nilai-nilai yang terkandung didalamnya baik sejarahnya, kulturnya dan estetikanya, untuk generasi yang akan datang.

Ketika Iklim akan selalu stabil, sementara sensibilitas estetik, selera visual, faktor sosial, ekonomi maupun politik dalam satu wilayah regional bisa saja berubah dan warga kota mulai memetakan apa yang diinginkan tentang kotanya tentang konsep privat dan public menjadi sebuah identitas kota yang kompak. Sehingga  proyek besar urban design/planning tidak hanya ‘berbunyi’ di atas kertas belaka, oleh karenanya harus dicari cara yang lebih realistis dengan skala yang lebih mikro.Seperti  "Urban acupuncture" yang tidak hanya mengobati beberapa titik-titik struktur kota yang rusak namun berpotensi sebagai urban katalis untuk menggiring perbaikan lingkungan kota yang lebih besar di radius titik ukupuntur tersebut.

Sepengal tulisan diatas saya kutip dari berbagai tulisan, maaf kalo saya tidak minta ijin pada beberapa yang disebutkan namanya diatas, sekedar mengingatkan anda masih berada di peta Bandung saat ini, sebuah peta kegundahan atas matinya titik partisipasi warga kota bandung atas kekuasaan kapitalis. Anggap saja tantangan terbuka buat para Urban Plannernya Bandung, jangan hanya jago tandang tapi coba jago main di kadang, jangan kalah terhadap interupsi, saatnya kawan-kawan mengeluarkan cakar ‘maung’ atas Bandungmu. Mari kita kompak.

Selamat Berjuang !

Ditulis oleh:

Tubagus Adhi

Anggota Muda BandungHeritage

Ngabandungan Alun-alun Bandung

jeung Bandung

Puisi Dari sudiantoAli

Monday, April 16th, 2007

Aku berjuang untuk arsitektur nusantara

Memberi nama, menggali kandungan makna

Namun saksikan kata sia-sia

Karena arsitektur adalah perjuangan

Yang tak perlu lagi diperjuangkan

Aku berjuang menguak masa,

Mengerat sejarah, menata serpihan abad

Namun aku saksikan

Rinupa beku yang menakutkan

Menyapa dengan wajah dingin

Aku berjuang diantara jutaan lainnya,

Mengerat bumi, menata serpihan tera

Namun aku saksikan

Kami belum menuai betah arsitektur

Yang dapat disebut pikabeutaheun

Aku sebatang kara tanpa tanah pusaka

Bergulat dalam sejarah, kata atas landas fakta

Namun kita saksikan

Kita terbelenggu karena

Kealpaan sendiri

Ternyata aku hanya tahu krisis

Dalam senggau plesetan birokrasi

Ujud yang tersusun dari

Kekuatan kendali kyber tanpa batas

Larut dalam embun pagi

ternyata aku hanya merancang mimpi

bicara dalam ceracau

tak mengerti bahasa sendiri

kau pun lakon tanpa ceriteme lagi

sesosok bayangan dalam mimpi

ternyata aku pembangun yang sering termanggu

didepan raut dengan latar langit yang semakin kelam

aku tak lagi mengenalmu, kaupun tak mengenalku lagi

padahal kini esok dan lusa

kita harus ngawangun ki nusantara.

Sudianto aly, lingkar puisi kyber-almer, 1999.

Du’ä

Tuhan kami,

Cahayu bestari sungguh tak terukur

Segala ruang dan bentuk tanpa kecuali

Ada

dalam naung fajar Cahaya-Mu

Maka kami berlindung di bawah Cahaya SejatiMu

Seperti

Cahaya-Mu menembus segenap penjuru

Menerangi kegelapan dan buta dunia

Setiap sesuatu berselimut Cahaya-Mu

Baik sekala maupun niskala

Kami berlindung pada Sang Maha Ahad yang Maha Menerangi

Ibarat ruang, pendar cahaya tak pernah terhalang

Segala Tanya tak pernah tak terjawab

Maka tak seorangpun luput dari selimut Cahaya-Mu

Hati kami hanya ibarat air kali belaka

Yang tak tahu akan semakin jernih atau keruh

Maka kabulkan pinta kami

Wahai Sang Di Luar Segala Jangkau Nalar

‘tuk berseru:wilujeung sumping ki nusantara anyar

Tuhan kami,

Kaulah Sang Maha Pencipta

Adakan ruang dan bentuk dari tiada

Dalam sebaik baik ciptaan

Jadikan kami muridmurid Mu

Yang menerima ajaran Mu setiap saat

Dalam sentuhan Mu oh Sang Maha Pencipta

Kami haturkan segala puji

Dalam setiap awal melangkah

Menghirup aura cinta M dalam imaji

Bangunkan kami sebelum kami tegak membangun

Bahkan pada awal ketika berupa mimpi

Cahaya diatas cahaya

Terangi nalar kami

Bukalah hati kami

Hantarkan kami k ufuk baru

Untuk

Ngawangun Ki Nusantara.

Kekamuan akan Aku

Monday, April 16th, 2007

Rara tak pernah muncul ketika jiwa-jiwa yang tenang menjadi sangat menghayutkan, menerpa pagi meranah keyakinan akan panggilan selamat datang hari yang panjang, kamu cukup menjadi itu, jiwa-jiwa yang tenang jiwa-jiwa yang menghayutkan hingga kamu pernah menarikku menjadi pribadi, memelukku menjadi hakiki bahkan menyapaku dengan pertanyaan pertanyaan yang aneh, aku meluangkan waktu untuk menyentuh jemarimu. Rara tak pernah muncul ketika keheningan berganti dengan pandangan, dengan hati hati yang mencengangkan, aku cukup melihatmu satu kali dan melihat lagi dikedua kali dengan tatapan semu dan keheranan. Aku menyapamu, dengan semangat matahari dengan propaganda pagi hari. Aku merindukanmu, lewat tatapan yang aneh, lewat mentari diatas kepala, lewat jajanan yang tak pernah terbeli. Aku meluangkan waktu untuk melapalkan namamu. Rara itu telah pergi, digantikan mentari yang melemah, digantikan sinar yang meredup, digantikan sore hari, digantikan tatapan kosong, digantikan mata-mata yang mengherankan, digantikan dengan terlelap selama 15 menit. Aku tau kau selalu ada disini. Diam dan menyapaku “Syayang” mungkin karena aku telah terpaut dengan kehendak yang mungkin akan menjadi batasanku melakukan sesuatu, aku mulai menulis kegundahan ini, yang lambat laun menggoncang, menggetarkan seluruh ranah nuraniku, semoga aku tetap setia. Entah apa yang membawaku pada ranah melankolisku yang menerpaku seperti tanpa revolusi dengan trik propagandanya yang membawaku melantunkan kata-kata yang menusuk ranah terdalamku. Ketika perasaan ini memunculkan ranah ketidak pastian hanya menunggu seiring doa. Maka tertulislah kisah tentang harapan yang memudar ditengah kepastian yang tak berptepi, tiada tara susahnya dipenuhi kelam melewati temaram hanya dapat hati luka.Seperti mawar berduri yang kini ku pergi.Aku pergi takan lama hanya sekejap saja aku ka kembali lagi asal kau tetap menanti.aku kan pergi meninggalkan dirimu menyusuri liku hidupku, janganlah kau bimbang dan janganlah kau ragu berikanlah senyumn padaku, aku pegi takakan lama hnya sekejap saja aku kan kembali lagi asalakan engkau tetap mernanti. Ini tertulis dibeberapa teks syair lagu Sebenarnya aku Cuma ingin cerita tentang daun, yang mulai merekas meninggalkan batang terrbawa angin sepoy-sepoy jatuh tersenyum menimpa tanah lupa untuk melawan gravitasi seperti keinginan yang selalu mendera nurani kita tiap pagi seperti aku yang lupa akan hidup yang merengkas keseharian melawan kebutuhan yang terpinggirkan, kalau boleh aku bilang apa pentingnya tulisan ini, ketika siang ini menjadi sembilu yang terenggah ditengah kecurigaan atas luka atas keringnya makna atas kematian kata, tapi aku tetap saja menulis bagai bus yan hilir mudik bak air yang turus menemui titik terendah, aku tetap berdiri atas nama makna dan kata. Aku yakin kau tidak pernah akan mengerti, atas pemaknaan hidup yang aku jalani Rara, ketidakpastian yang selalu aku sajikan dimeja makan di tempat makan junkfood atas nama kapitalisme, diperjalanan tanpa motor dan menunduk jalan mobil yang tak pernah berhenti atas nama modernisasi, semua semu tanpa makna semua kaku tanpa kata, tapi tetap saja aku berdiri atas pemaknaan dan kata-kata. Pernahkah terbesit darimu tentang kata dan kata atas nama dan nurani atas nama cita dan cinta atas nama orang-orang yang berdiri tegak bersama idealisme, ah aku yakin kamu bilang masa bodoh dengan itu, tidak pernah realitas bisa bersinggungan entitas, sayang kamu harus jadi kaya karena dengan kaya anak kita akan bersekolah ditempat yang hebat, karna dengan kaya kita bisa menikmati hal yang hebat lainnya, hanya dengan kaya semua bisa kita beli, karena kaya berarti uang yang banyak. Hari ini aku tersenyum untuk jiwa-jiwa, yang mengumpamakan dirinya anak kucing, anak ayam bahkan anak monyet, aku akan menyembelih diriku sendiri atas makna itu, setia tapi pemalas, pemalas tapi banyak akal, gabungan yang luar biasa antara rupa, susunan dan peristiwa dan pengkhayal itu mendaki lereng budaya dalam badai hujan gerimis, menguak zaman penuh duri meringis luka dalam gerimis yang meregas, ia tersentak meyambut sadar namun detak detik jam telah mati. Hari nanti kita akan berbangga atas provokasi dari makna propaganda yang selalu kita hias dalam untaian peristiwa, merekas seperti daun yang jatuh dari tangkainya, terbang bebas menyapa lingkar waktu dan menurut menjadi fenomena, ya entah apa yang terpikirkan oleh semua orang ketika keadaan terlihat sulit tak terpetakan yang pasti hari nanti sudah ada ribuah rencana yang harus menusuk ruang ingatan ada ratusan kelompok yang menghanguskan urat nadi atas nama pergerakan pembebasan. Harum nafas yang tercerahkan memutar otak kiriku untuk menyampaikan kegundahan yang meretak ditengah rentetan peristiwa yang mesti aku baca, belajar mendeskripsikan arti bergerak dan diam, atau pergi tinggalkan. Dimana letak kesunyian yang tadi pagi aku hampiri ?

Adhi november duaribu tujuh